Wednesday, July 5, 2017

Menyentuh Khatulistiwa Di Murung Raya

Sehabis lebaran 1438H kemarin, saya memutuskan mengambil sisa cuti, ya itung-itung daripada hangus sob😅. Namun, sepertinya cuti akan sangat membosankan, karena saya awalnya tanpa ada rencana kemana-mana. Sampai akhirnya saya tak sengaja menemukan sebuah artikel di Kompasiana dan sebuah blog yang bercerita tentang petualangan menuju Monumen Khatulistiwa di tengah hutan Barito, wow! Seperti yang kita ketahui, pulau Kalimantan adalah salah satu pulau yang dilintasi oleh garis Khatulistiwa.

journey

Tentunya yang terkenal adalah Monumen Khatulistiwa di Pontianak dan Bontang. Namun beneran sob, ternyata di tengah belantara Barito ada satu Monumen Khatulistiwa juga. Wah, lagi-lagi bisikan untuk bertualang kembali mengganggu pikiran😁. Sampai akhirnya saya putuskan untuk GO! Itung-itung ada kegiatan selama cuti, ye kaaaan. Monumen tersebut berada di daerah Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, yang memerlukan waktu sekitar 11 jam by motor untuk ke Kabupaten itu. Setelah semedi untuk memperhitungkan segala persiapan(lebay?), saya putuskan untuk start pada hari Minggu tanggal 02 Juli 2017.

Eh, masa saya pergi sendiri? Kan greget juga kalo "lone traveler"? Mulailah saya sebarkan seruan ke berbagai teman, siapa yang mau ikut😂. Well, ternyata teman sepertinya tidak ada yang memiliki waktu. Maklum saya ambil cuti pas orang pada mulai masuk kerja setelah cuti bersama lebaran, wkwkwk. Daaaan, yah terpaksa saya go sendiri aja deh. Kan daripada gak jadi, dimana saya menaruh muka saya kepada jalanan yang sudah memanggil-manggil? (lebay again). Maklum sob, "bisikan" itulah yang membuat saya "jalan-jalan" kesini juga😅.

Pukul 07:00 WITA start mulai rumah di daerah Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan, melewati jalur Trans Kalimantan poros utara atau melewati daerah Hulu Sungai. Jalur ini sih, saya sudah sangat sering lewati sob, jadi ya tancap gas aja trus untuk menghemat waktu. Setelah 5 jam perjalanan yang kebetulan hari itu sangat cerah(idaman para traveler) sambil ditemani alunan nyentrik Lewis Del Mar yang berjudul Painting(Masterpiece), saya tiba di perbatasan Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, di daerah Pasar Panas, Kabupaten Tabalong, Kalsel.

batas

Memasuki daerah Kalteng, jalur mulai menyempit sob, berbeda dengan jalur Trans Kalimantan poros selatan yang dulu saya lewati disini, yang kebanyakan sangat lega. Bahkan, di jalur menuju Muara Teweh dan Puruk Cahu, ada beberapa titik longsor yang mengharuskan kita untuk ekstra hati-hati.

jalur

Jalanan sewaktu masih di wilayah Kalsel sih sebagian besar ramai sob. Tapi disini sebagian besar sepi, tantangan tersendiri, hehe. 4 jam dari perbatasan tadi, tibalah saya di kota Muara Teweh. Kota ini adalah salah satu kota di tepian sungai Barito.

muarateweh

Perjalanan menuju Puruk Cahu, ibukota Kabupaten Murung Raya tersebut masih sekitar 2 jam-an dari kota Muara Teweh. Melewati jalur yang bergunung-gunung memaksa sepeda motor bekerja lebih keras. Hari sudah semakin sore nih, dan entah kenapa suhu disini lebih dingin menurut saya, mungkin karena masih banyak pepohonan yang rindang disini sob. Tepat waktu maghrib tiba lah saya di kota Puruk Cahu.

jembatan

Kota ini juga berada di tepian sungai Barito sob, sangat cantik. Karena hari sudah malam saya putuskan untuk bermalam dulu di kota ini, ya sambil menikmati suasana malam gitu, meski cuma sendirian, hihi.

purukcahu

purukcahu

Kukuruyuuuk, pagi menyingsing, dan saya kembali untuk bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Monumen Khatulistiwa tersebut berada di Kecamatan Uut Murung. Yang saya dengar jalur nya sangat berat. Hmmmm, semakin menarik saja nih sob. Pukul 06:30 WITA saya start dari Puruk Cahu, melewati jalan menuju arah Kelurahan Saripoi. Disini jalurnya masih enak sob, karna di cor beton, paling ada sedikit yang masih berbatu-batu.

saripoi

Tidak beberapa lama, akan melewati Desa Konut. Desa ini terkenal dengan Rumah Betang adat Dayak nya. Namun saya tidak mampir sob, kepagian kayaknya, hehe. Terus saja menelusuri jalan, sampai pada suatu bukit dekat Diklat Tenaga Pengajar, Kecamatan Tanah Siang. Wow, saya terpesona dengan pemandangan disini, Kota Puruk Cahu kelihatan di kejauhan yang diatas nya diselimuti awan tipis. Layaknya "Negeri Di Atas Awan" yang disirami sinar mentari terbit, nice!

bukit

Namun perjalanan harus tetap dilanjutkan. Terus saja menelurusi jalur yang mulai berbatu-batu(jalan cor nya terkelupas), tibalah di persimpangan dengan jalur Perusahan Logging(kayu), ambil kiri menuju Uut Murung(kalo mau tanya sama warga sekitar). Btw, sungai disini bening sob, sama kayak cewek-cewek nya😜😅.

sungai

Nah, dengan melewati jalur Perusahaan Logging inilah tantangan yang sesungguhnya. Jalan disini sepenuhnya tanah merah dan berbatu-batu. Untung beribu untung hari itu lumayan cerah dan jalan kering, coba aja kalau basah, licin banget sob.

jalan1

Yang harus diperhatikan disini ialah rambu sob. Apabila sobat melihat rambu dengan tulisan "Kiri", itu artinya sobat harus melewati jalur kiri, dan sebaliknya kalau tulisannya "Kanan" artinya sobat harus ambil kanan. Ini untuk mencegah kita biar tidak "dicium" oleh angkutan logging atau pengendara lain. Seperti yang saya bilang diatas, dikarenakan jalur disini sangat berat apalagi ditambah medan yang berbukit-bukit, naik turun gunung gitu. Saya aja beberapa kali mau "dicium", untung gesit, yeah.

rambu

Pemandangan disini sungguh LUAR BIASA sob. Hutan yang masih asri dan lebat, sungguh memanjakan mata, ditambah view pegunungan yang membiru, jatuh cinta rasanya. Sungguh merupakan kebesaran Tuhan.

jalur

Di tengah hutan gini masih ada BTS, hmmmm you know lah yang punya siapa?😉

tower

Setelah 3 jam melintasi jalan yang berkelok-kelok naik turun gunung. Saya mulai ragu nih, hehe, maklum udah kelamaan di jalan yang naik sepeda motor tapi rasanya seperti naik kuda. Keraguan bertambah ketika melihat kubangan, apa bener sih ini jalannya? Saya tanya lah kepada warga yang ada angkut kayu, ternyata benar itu jalannya, "masih 2 jam lagi mas" katanya. Well😜, sepertinya memang ini "takdir" yang harus saya lewati, wkwk.

jalur

Berhasil melewati beberapa kubangan, akhirnya ada simpangan yang harus diperhatikan, kalau belok kiri akan lanjut melewati jalur perusahaan, kalau kanan menuju daerah Laas(Uut Murung), untuk itu kita ambil kanan, dan memasuki jalur biasa(bukan perusahaan lagi). Saya berpikir, jalan perusahaan saja rusak, apalagi jalan biasa, hmmm.

lumpur

Kalau nyemplung ke jurang itu, "wassalam" dah saya sob, oh Tuhan saya masih mau hidup, belum kawin nih😌. Setelah 4 jam perjalanan, badan sudah mulai error, dan hati jadi risih, kok gak sampe-sampe yah. Namun semua itu sirna ketika saya tiba di sebuah bukit yang lumayan tinggi tapi super duper indah. Ya, inilah yang dinamakan bukit Pasir Putih a.k.a Bukit Tengkorak. Eits, jangan salah dengan namanya yang serem ya, sangat kontras dengan pemandangan indah disini.

bukit

Apalagi disini ada beberapa gazebo untuk menikmati view hamparan pegunungan di seberang nya. Pegunungan apakah itu sob? Oke siap? Saya perkenalkan itulah dia "The Heart of Borneo", pegunungan Schwaner and Muller. Apaaaa? Masih ada yang belum tau pegunungan yang legendaris ituuuu? Hmmmm, orang Kalimantan kalau masih belum tau, kurang afdol sob, haha. Sungguh luar biasa bisa menikmati view pegunungan tersebut. Ada rasa deg-deg-an dalam hati, layaknya kekasih yang sudah lama tidak bertemu😍, extremely amazing!

pegunungan

Sungguh kamera TIDAK bisa mewakili! Hanya mata yang bisa menikmati.

pegunungan_lagi

Meskipun belum puas menikmati, saya masih harus berlanjut menaklukkan jalur disini(lebay?). Well, kubangan again, seperti yang sudah saya bilang, mau gak mau ya mesti enjoy-in aja, hehe.


Bantuin orang kemogokan juga, ya meskipun cuma mem-foto, wkwkkwk. Jalur disini completely sepi sob. Hampir tidak ada desa/keramaian. Jadi, kalo sobat kena mogok disini, apalagi sendirian, silakan nangis aja sob, gapapa kok, saya dapat memaklumi😜. Bawa ban serep atau bahan bakar cadangan, hampir wajib hukumnya, hehe.


Kadang di pinggir jalan sobat akan menemui beberapa patung yang unik. Dan bagi saya akan jadi serem kalau dilewati pada malam hari, hadeh, hehe.

patung

1 jam dari bukit Tengkorak, sobat akan menemui gapura di sebelah kiri dengan tulisan "Selamat Datang". Itulah wisata air terjun Bumbun. Eeemmmm, langsung singgah dooooong!

tangga

Setelah menuruni tangga yang di kanan kiri nya pepohonan yang rindang dan tinggi, akhirnya air terjun nampak. Sungguh luar biasa cantik! Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 20 meter ini ada beberapa tingkat loh sob, keren. Air nya yang jernih memanggil-manggil untuk mandi nih. Silakan dah nyemplung sambil telanjang, gak ada orang juga disitu, wkwkwk. Tapi hati-hati sob, kalau terbawa arus, nyemplung dah di air terjun tingkat kedua nya yang lumayan tinggi juga, kan wassalam.

bumbun

bumbun

bumbun

Namun sayang, wisata ini sepertinya terbengkalai sob😔. Mungkin dikarenakan akses yang sangat sulit. Padahal, air terjun ini saya akui sangat-sangat worth it dijadikan wisata unggulan daerah ini. Titian nya pun sudah mulai lapuk, hati-hati kalau melangkah yah.

wisata

Setelah puas dengan kesegaran air pegunungan nan jernih dan segar. Saya lanjutkan lagi perjalanan. Masih sekitar 10 kilometer lagi. Nei nei nei, 10 kilometer disini bukan dekat artinya sob, disini akan terasa 30 kilometer jauhnya, wkwkwk.

jalan_bukit

Dan finally, setelah total 5 jam perjalanan yang amazing, hhhmmmm. Sampailah saya di kecamatan Uut Murung. Sebuah kecamatan di tengah belantara Barito.

kecamatan

Tidak jauh dari kantor Kecamatan, sedikit menuruni bukit, tiba lah saya di Monumen Khatulistiwa, yeeeeeaaah!

equator

Monumen ini terletak di desa Tumbang Olong, Kecamatan Uut Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalteng. Monumen ini dibangun oleh PT. SSP tahun 2001. Saya masih saja tak percaya, untuk itu bandel saya buka GPS di hengpon, eh ternyata bener sob, saya berada di titik 0 derajat di garis lintang😋yeeeeee(maklum udik, wkwk). Monumen ini sangat pantas menurut saya jadi ikon daerah Murung Raya, itung-itung alternatif Monumen Khatulistiwa yang di Pontianak atau Bontang. Cuma beda nya, yang satu ini di belantara, hehe.

Pada bulan-bulan tertentu(kalo gak salah Maret), jika sobat berdiri disini tepat jam 12 siang, maka bayangan sobat akan menghilang, mengapa? Karena, matahari akan tepat berada lurus di atas kepala kita, keren bukan? Oh, pastinya keren dong!

khatulistiwa

khatulistiwa

Ssshshhhh, it is hot here. Untunglah di samping tugu tersebut, ada sungai dengan airnya yang segar.

sungai

Sungguh betapa menikmatinya saya dengan suasana disini. Lingkungan masih asri, pepohonan yang lebat, dan tenang, mantap lah pokoknya. Warga nya juga murah senyum, seakan selalu siap menyambut tamu yang datang.

Sebenarnya kalau mau lebih nekat, tetap lanjutkan perjalanan menuju arah perbatasan Kaltim, masih banyak spot wisata yang tidak kalah cantik sob, tentunya dengan medan lebih berat dan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Cuman saya cukup sampai sini aja deh dulu, hehe, sendirian aja sih soalnya, ini aja udah greget banget rasanya.

Perjalanan yang luar bisa ini akan sangat berkesan bagi saya. Karena selain sendirian, jalannya juga sangat menantang adrenalin sob, super. Saran sih buat pemerintah yang baik hatinya, kalau bisa di perbaiki lah jalur disini. Kan kasian warga nya, meskipun mereka sepertinya sudah biasa dengan jalan tersebut, tapi kan yaaa greget juga. Lagian, biar orang jauh kaya saya gak mesti susah payah "banget" untuk menikmati pemandangan disini yang luar biasa, ikonik banget padahal.

Oh iya, mau bertualang kesini juga, need a map?

peta
Image credit: BCI Official (Pundang Stories Blog)
Sekian dulu sharing dari saya mengenai perjalanan saya ini. Sobat mau juga? Silakan dicoba sob kesini, mantap pokoknya(capeknya juga mantep, wkwkwk). Dan moral story dari perjalanan saya ini adalah JANGAN kesini pada musim hujan!😜 Okeh, apabila salah kata mohon dimaafken yah, wassalam.

Bonus:

lone_traveler
Lone Ranger, eh Lone Traveler ceritanya😛
Share:
Previous
Prev Post «
Disqus
Blogger
Choose comment platform

4 comments

Biar gak gampang tersinggung ya gan, jadi mainnya jauh-jauh 😂

Balas

Wow...mantapp. salut... petualang sejati apalagi sendirian jauh2 pula. Saya jg sering jalan2 sendirian tp masih seputaran Bjb-Bjm-Mtp aja tp kdg kalau agak kehutan batal haha.. sekali lagi saya salut.

Balas

Haha, saya waktu itu sebenarnya antara nekat sama kurang kerjaan aja bro...tks sudah berkunjung ke blog saya.

Balas

Berkomentarlah dengan bijak. Sobat juga bisa menambahkan emoticon, klik ->

Langganan Artikel Gratis
Masukan alamat email:

Delivered by FeedBurner

Popular Posts

Join now?