Monday, August 29, 2011

Pertama Kalinya Belanda Siarkan Perayaan Idul Fitri

Poskota, Untuk pertama kali televisi publik Belanda menayangkan acara meriah Hari Raya Idul Fitri. Namun tidak semua organisasi Muslim menanggapi positif inisiatif itu. Gagasan asli siaran perayaan itu sebenarnya dari stasiun televisi muslim baru, MON. Tapi akibat perselisihan, stasiun kecil ini kehilangan jam siaran. Badan penyiaran umum NTR memutuskan mengambil alih inisiatif tersebut. ‘Untuk menyelamatkan acara’, demikian Frans Jennekens, kepala divisi acara multi budaya NTR.

Acara perayaan Idul Fitri yang berlangsung di Concertgebouw Amsterdam, bersifat multibudaya dengan banyak musik, menampilkan aktor, penyanyi serta Orkestra Metropole.

Atas pertanyaan mengapa NTR – badan penyiaran umum non-agama – meluangkan waktu untuk menyorot perayaan Idul Fitri, Jennekens menjawab: “Mengapa tidak? Aneh sekali jika salah satu acara kebudayaan terbesar Belanda, yang melibatkan lebih dari satu juta orang, belum pernah ditayangkan di televisi, sementara acara besar lain, seperti Hari Natal, pesan Urbi et Orbi sri Paus, atau Karnaval Musim Panas, juga ditayangkan.”

SIRKUS NATAL

Bukannya itu sama, seperti ketika badan penyiaran umum Mesir misalnya memutuskan menayangkan acara perayaan Natal? “Tidak, ” kata Jennekens.

Menurutnya inisiatif NTR lebih mirip inisiatif menayangkan sirkus Natal daripada Hari Natal. Atau misalnya Matthäuspassion karya Bach, yang setiap tahun ditayangkan menjelang Hari Raya Paskah, di televisi Belanda.

Sebagian besar warga Belanda sangat berkenan dengan acara-acara budaya seperti ini.

“Kami tidak mengisi siaran religius. Jadi kami bilang: kami menyediakan acara aneka ragam budaya. Agama bagian darinya. Tapi agama bukan terpenting. Kami tidak membacakan ayat-ayat al-Quran, melainkan memperlihatkan kekayaan budaya Islam. Kami juga ingin menyorot perayaan Hari Raya Idul Fitri. Tidak banyak unsur-unsur agama di dalamnya. Acaranya sangat terbuka, menampilkan warga muslim dan non-muslim.”

Yassmine el Ksaihi, ketua mesjid liberal yang dijuluki mesjid Polder, menyebutnya ‘inisiatif menarik’. Ia sangat menghargai jika Idul Fitri dipandang sebagai hari raya nasional. Dengan demikian badan penyiaran umum jelas memperhatikan warga Islam.

TIDAK PANTAS

Namun di kalangan warga Islam sendiri juga ada suara-suara yang mempertanyakan inisiatif NTR. Beberapa orang berpendapat acara musik macam itu tidak pantas.

“Ini kan akhir bulan suci Ramadhan. Seharusnya dirayakan dalam suasana yang pantas pula. Bukan dengan acara televisi besar-besaran, ” kata Farid Aouled Lahcen, ketua Vereniging Stem van Marokkaanse Democraten, atau Organisasi Suara Demokrat Maroko

Dia tidak memandang positif inisiatif NTR tersebut. Menurutnya acara budaya macam itu tidak membantu proses integrasi warga Maroko di Belanda, namun justru menghalanginya.

“Tahun-tahun belakangan kami melihat banyak inisiatif yang mengaitkan perayaan-perayaan religius, seperti Idul Fitri, Idul Adha serta iftar. Suatu ketika anda melihat inisiatif itu justru menimbulkan lebih banyak segregasi di masyarakat ketimbang suatu ikatan sosial. Orang sudah jenuh dengan kaitan ke agama demi kepentingan masyarakat,” komentarnya.

TRADISI BARU

Frans Jennekens dari NTR percaya ini akan menjadi acara bagus. Menurutnya Concertgebouw ramai dikunjungi. Sampai sekarang ia menerima permintaan lewat telpon orang yang juga ingin hadir. Jennekens berharap dengan acara perayaan Idul Fitri Nasional akan lahir sebuah tradisi baru.

Menurutnya ini bisa menjadi acara tahunan. Jika di masa mendatang ada lembaga penyiaran muslim baru, NTR, dengan senang hati, mau bekerja sama dengannya untuk di masa mendatang bersama-sama menayangkan Hari Raya Idul Fitri nasional.


Share:
Previous
Prev Post «
Disqus
Blogger
Choose comment platform

No comments

Berkomentarlah dengan bijak. Sobat juga bisa menambahkan emoticon, klik ->

Langganan Artikel Gratis
Masukan alamat email:

Delivered by FeedBurner

Popular Posts

Join now?