Wednesday, March 2, 2011

Kisah Nabi Simson/Sam'un AS

Duh capeknyeeee ngetik, tapi gak apa lah, demi berbagi pengetahuan, hehe. Pernah dengar nabi Simson? Bukan yang kartun itu yaaa. Kalo Samson? Emmmm pasti dah pernah dengar. Yup, Simson atau Samson adalah orang yang sama. Tapi kisah saya bukan kisah dia yang dicukur bulunya itu yea, kekekekekkk. Beliau juga termasuk nabi, tapi nabi yang tidak wajib untuk diketahui muslim.

Simson (Ibrani: שִׁמְשׁוֹן Šimšon, Tiberias Šimšôn, Arab:شمشون Syamsyawn, Sam'un) adalah hakim ketiga dari terakhir dalam zaman Anak-anak Israel kuno, diceritakan dalam kitab suci Yahudi, Tanakh dan Talmud. Ia digambarkan dalam Kitab Hakim-Hakim bab 13 hingga 16. Dipercaya dirinya dimakamkan di Tel Tzora di Israel menatap Ngarai Sorek. Disana terdapat dua batu pualam besar untuk Samson dan ayahnya Manoah. Di dekatnya terletak altar untuk Manoah (seperti yang ditulis dalam Kitab Hakim-Hakim 13:19-24). Tempat ini berada antara kota Zorah dan Eshtaol.


Etimologi

Shimshon artinya "yang berasal dari matahari" – mungkin untuk menyebut bahwa dirinya menebarkan cahaya dan perkasa, atau "Dia yang melayani Tuhan".

Samson adalah seorang tokoh seperti Herkules, yang menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa untuk bertempur melawan musuh-musuhnya dan melakukan beberapa aksi kepahlawanan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa: bergulat melawan singa, menghancurkan pasukan musuh dengan hanya menggunakan tulang rahang keledai, dan merobohkan sebuah bangunan raksasa.

Joan Comay, salah seorang penulis buku "Who's Who in the Bible:The Old Testament and the Apocrypha, The New Testament" percaya bahwa cerita Samson yang sedemikian akuratnya mengenai waktu dan tempat membuktikan bahwa Samson adalah figur yang nyata yang menggunakan kekuatan fisiknya untuk melawan penjajah Israel dan bukan cerita legenda saja.


Nabi Simson dalam Islam

Kisah Nabi Syam'un/Samson ini tidak terdapat dalam Al Quran namun kisah Syam'un ini ada pada kitab Qisasul Al Anbiya'. Dalam kitab itu dikatakan bahawa Nabi Muhammad S.A.W. tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh sahabatnya, "Apa yang membuatkanmu tersenyum wahai Rasulullah?" Muhammad menjawab, "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar, ada seorang Nabi dengan membawa pedang yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam syurga. Beliau adalah Syam'un".

Dalam kitab Muqasyafatul Qulub karangan Imam Ghazali ada menceritakan bahwa Rasulullah berkumpul pada bulan suci Ramadhan. Di dalam usrah itu Rasulullah bercerita mengenai Nabi Allah S.W.T bernama Syam'un Rasulullah menggelarnya Sam’un Ghazi.

Syam'un telah dianugerahkan oleh Allah S.W.T. dengan kekuatan luar biasa seperti dapat melembutkan besi, mampu menewaskan binatang buas dan berkemampuan untuk mengangkat tiang istana dan merobohkannya.

Berani menentang kebatilan

Nabi Allah ini menentang keras perbuatan kaumnya yang ingkar dengan perintah Allah S.W.T. Pada masa itu, Raja Israel sendiri adalah seorang yang ingkar dengan perintah Allah dan zalim pula terhadap rakyatnya. Sifat bongkak raja tersebut mengundang rasa kesal beliau terhadap raja tersebut sehingga menyebabkan baginda tidak henti-henti untuk berdakwah kepadanya walau dengan berbagai cara.

Sifat istiqamah Syam'un ada konsekuensinya, suatu waktu beliau berhasil ditangkap setelah isterinya sendiri mengkhianatinya. Syam'un pernah berkata kepada isterinya bahwa kelemahan dirinya adalah dengan mengikat dirinya dengan rambutnya sendiri. Akhirnya Syam'un ditangkap.

Syam'un telah disiksa dan dibutakan matanya. Namun tidak menghalang dirinya untuk terus berjuang menentang kebatilan. Syam'un berdoa kepada Allah S.W.T. agar dikembalikan kekuatan yang dianugerahkan kepadanya dahulu. Allah S.W.T. mengkabulkan doa baginda.

Syam'un telah menggunakan kekuatan yang diperolehnya semula dengan meruntuhkan seluruh istana sehingga mengorbankan raja dan isteri beliau sendiri.

Setelah kejadian itu, Syam'un kemudian bersumpah untuk beribadah selama 1000 bulan tanpa henti. Daripada kisah yang diceritakan inilah, maka datang wahyu berkenaan malam Lailatul Qadar yang sama dengan keberkatan 1000 bulan.

Hal ini adalah karena terdapat sahabat baginda Rasulullah yang bertanya kepada baginda untuk mereka ikut jejak langkah Nabi Syam'un. Baginda terdiam sejenak sebelum malaikat Jibril datang menurunkan wahyu kepada baginda Rasulullah mengenai satu malam pada bulan Ramadhan yakni malam Lailatul Qadar yaitu siapa yang beribadat pada malam tersebut, pahala amalannya menyamai 1000 bulan beribadat.

Share:
Previous
Prev Post «
Disqus
Blogger
Choose comment platform

No comments

Berkomentarlah dengan bijak. Sobat juga bisa menambahkan emoticon, klik ->

Langganan Artikel Gratis
Masukan alamat email:

Delivered by FeedBurner

Popular Posts

Join now?