Wednesday, August 26, 2015

Kisah Nabi Zulkarnain AS

Zulkarnain secara harfiahnya berarti "Dia yang Bertanduk Dua", merupakan satu tokoh yang disebutkan di dalam Qur'an, yang menyatakan beliau sebagai raja yang hebat dan adil yang membangun tembok pengurung Yakjuj dan Makjuj. Menurut sejarah, Zulkarnain dikatakan sebagai Iskandar Agung (Alexander dari Macedonia), tetapi disangkal oleh para ulama dan sarjana Islam yang mengatakan Zulkarnain adalah Cyrus Agung. Gelar tersebut turut terkenal di kalangan masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam yang boleh dikatakan telah digunakan sekurang-kurangnya oleh tiga orang raja yang berbeda.

Pertanyaan

Persoalan tentang Zulkarnain tercatat dalam sirah nabawiyah (sejarah Nabi) dan tertulis dalam sirah Ibnu Ishaq yang menceritakan bahwa musyrikin Makkah meminta bantuan Yahudi Khaibar untuk mencari kelemahan Muhammad S.A.W. Ketika Nadr mengatakan hal tersebut kepada mereka, mereka mengirim dia dan Uqbah bin Abu Muit kepada rabbi Yahudi di Madinah. Untuk membuktikan kenabian, rabbi tersebut akan mengajukan tiga pertanyaan yang bila dijawab dengan betul, maka itu membuktikan akan baginda seorang nabi dan begitu juga sebaliknya.

Pertanyaannya ialah:

1.Tentang beberapa anak muda di zaman dahulu yang ceritanya amat pelik dan menakjubkan.

2.Tentang seorang lelaki yang merupakan pengembara hebat yang telah sampai ke timur dan barat.

3.Tentang Roh.

Baginda Muhammad s.a.w. meminta waktu untuk menjawabnya dan selepas diturunkan wahyu, semuanya telah terjawab melalui surah al-Kahfi ayat 83-98.

Bertanduk dua?

Sebagian pihak berpendapat gelar "Zulkarnain" artinya "bertanduk dua", yang secara tersirat merujuk kepada prasasti yang ditempa untuk Iskandar Agung maupun ukiran dinding Cyrus Agung. Pentafsir Quran abad ke-14 memberikan sebab yang berbeda. Dalam Tafsir Ibn Kathir menyatakan, "sebagian mereka memanggilnya Zulkarnain karena dia mencapai dua "tanduk" (batas) matahari, timur dan barat, tempat ia terbit dan terbenam."

Tambahan pula, nama Zulkarnain juga diterjemahkan menjadi "dia yang berketurunan dua", "dia yang hidup hingga dua kurun", "dia yang memiliki dua kerajaan" ataupun "raja dua kerajaan". Banyak yang mentafsirkan perkataan tersebut dengan maksud yang berbeda. Terdapat juga pendapat yang mengatakan "bertanduk dua" bermaksud menggabungkan 2 negeri.

Share:
Previous
Prev Post «
Disqus
Blogger
Choose comment platform

No comments

Berkomentarlah dengan bijak. Sobat juga bisa menambahkan emoticon, klik ->

Langganan Artikel Gratis
Masukan alamat email:

Delivered by FeedBurner

Popular Posts

Join now?